Kampong Wak Hassan; Masa lalu Saat Lantas Singapura

Kampong Wak Hassan; Masa lalu Saat Lantas Singapura

Diposting pada

Direktori Wisata – Kampong Wak Hasan yang terletakdi daerah Sembawang termasuk salah satu tempat wisata sejarah yang ada di Singapura.

Kampong Wak Hassan; Masa lalu Saat Lantas Singapura

Daerah ini adalah dari sejumlah dusun pesisir yang berada di sepanjang garis pantai utara Singapura di sepanjang Jalan Sembawang yang saat ini dan tenggara Tanjong Irau, di muara Sungei Simpang. Dusun paling tua, Kampong Wak Hassan, mempunyai sejarah yang diawali saat sebelum tahun 1920-an, saat dusun itu dipindah ke wilayah itu.

Desa ini bermula dari kebun kelapa yang dibangun di tahun 1914 oleh Wak Hassan bin Ali, yang pinjamkan namanya ke dusun itu. Berada pada tempat Sungei Sembawang awalannya mengucur ke Selat Johor (pas di samping barat Galangan Kapal Sembawang saat ini), tempat ini dipindah sepanjang pembangunan pangkalan angkatan laut Inggris yang lebih besar di sepanjang garis pantai utara (pangkalan itu menghampar sekitaran 6,5 km di sepanjang pantai. dari Rimba ke Sembawang).

Dusun ini adalah dusun yang paling lama bertahan di dalam teritori ini, karena baru ditebangi pada tahun akhir 1990an. Untuk Yunos, yang tinggalkan teritori itu di tahun 1994, dan mantan masyarakat yang lain, ketergantungan mereka pada teritori tersebut kuat.

Kampong Wak Hassan Sembawang

Banyak yang balik dari hari ke hari untuk sekedar duduk di pinggir sisa tembok laut dusun itu. Tempat sempit di antara jalan dan tembok berperan untuk tempat di mana masa silam bisa diingat lagi.

Beberapa bekas warga dusun itu sekarang ada di daerah baru, teritori perumahan umum dengan sarana kekinian. Bekas masyarakat dan turunan pendiri dusun, Yazlyn Ishak, nikmati kenyamanan rumah anyarnya.

Tetapi, lepas dari keringanan yang sekarang mereka cicipi, banyak yang pilih tidak untuk mengganti beberapa hari saat laut jadi taman bermain mereka, saat mereka terjaga dan menyaksikan perahu-perahu nelayan kembali lagi ke perairan yang diwarnai oleh matahari keluar, saat pintu-pintu mereka tidak mempunyai kunci, untuk dunia perkotaan tempat mereka tinggal sekarang ini.

Untuk Yunos dan Yazlyn, yang berpindah ke Yishun di tahun 1987, ‘semangat kampung’lah yang membandingkan kehidupan dusun dari lingkungan baru mereka. Masa lalu paling indah Yazlyn ialah saat masyarakat dusun bergabung saat penyiapan acara perayaan dan pernikahan.

Tanggul laut, yang sekarang beberapa roboh, adalah pengingat fisik akan sisa rumah mereka yang diharap Yunos dan Yazlyn tetap ada. Wilayah itu sekarang ini sedang dalam tahapan pembangunan kembali dan tanggul laut ialah salah satu sisi fisik daerah yang masih ada. Di beberapa tempat tempat daerah itu dahulu berdiri, sudah tercipta pembangunan perumahan eksklusif.

Kampong Wak Hassan

Tembok laut tetap terima pengunjung dengan yang masih sama seperti dusun yang dulu pernah diproteksinya dan berperan untuk mengingati kita mengenai apa itu tembok di desa-desa seperti Kampong Wak Hassan – tembok itu tawarkan privacy dan pelindungan, tetapi sebelumnya tidak pernah jadi penghambat untuk pengunjung. peningkatan komunitas; suatu hal yang kami dapatkan kurang di ‘desa’ baru. Saksikan google maps.

Peralihan yang kita saksikan terjadi disekitaran sisa Kampong Wak Hassan mungkin saja adalah cerminan dari peralihan warga. Di masa silam, beberapa orang yang hidup di pinggir laut karena keperluan karena laut sediakan penghidupan. Hidup di pinggir laut sekarang jadi parameter keberhasilan materi yang diimpikan oleh warga baru.

Kampong’ ialah ejaan bahasa Melayu kuno dari ‘kampung’, yang pemakaiannya masih tetap dipertahankan pada nama tempat sampai sekarang ini.

Baca juga : Masjid Petempatan Melayu Sembawang, Singapura

Tersebut sepotong catatan perjalan tentang Kampong Wak Hassan pada saat wisata Singapura saya pada waktu ke situ. Mudah-mudahan bisa menambahkan pengetahuan Anda semua. []

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *